Tuesday, February 15, 2005
• from New York with love...
saat masih di New York, saya pernah berangan-angan... alangkah senangnya jika bisa bercerita tentang indahnya New York yang telah menumbuhkan cinta saya dan laurent pada seluruh handai taulan di tanah air. tapi seandainya kami beneran ingin pidato tentang apel besar saat resepsi, mungkin para tamu bisa mati kebosanan mendengar kami berceloteh.
resepsi pernikahan kami akhirnya mengambil tema New York City. tapi jangan bayangkan kami memindahkan fisik kota New York plek-plekan ke dalam gedung resepsi *tolong*.. berbulan-bulan saya semedi mematangkan konsep tsb. karena kalau tidak hati-hati.. eksekusi nya bisa jadi garing banget [membayangkan empire state building dan statue of liberty dari stereofoam bertengger di tengah ruangan adalah sebuah mimpi buruk!]
BIG IDEA nya memang New York. sub-idea nya adalah 2 orang yang abis pulang dari berpetualang di kota apel besar, yang tak sabar ingin segera bertutur tentang keindahan kota yang dilihatnya, tentang keindahan cinta yang ditemukan disana *aih.* berangkat dari konsep sederhana tsb, pelan-pelan terbentuklah elemen-elemennya:
undangan
saya pernah membahas dulu, undangan selain berisi informasi standart adalah citra pertama yang diterima calon tamu tentang pestanya. undangan kami berbentuk a series of postcards [dengan pertimbangan kalo orang jalan-jalan ke negara lain biasanya kan suka kirim postcard ke teman-teman di tanah airnya]. gambar di postcardnya adalah photo wajah New York dan jalan-jalan kotanya yang 'kebetulan' menampilkan wajah kami berdua. sengaja kami tak 'muncul langsung' disana, karena memang pada kenyataannya kami sudah pindah for good dari kota apel besar.
dibalik gambar-gambar tsb, terdapatlah cerita singkat mengenai perjalanan cinta kami berdua. tadinya laurent sempat protes karena menurutnya cerita itu terlalu personal untuk diwartakan ke ratusan orang yang tak kami kenal. pada akhirnya saya memang terpaksa mensensor sedikit info disana, tapi saya tetap keukeuh ingin bercerita di undangan karena saya ingin si tamu tau persis tentang kami berdua [tak hanya sekedar datang karena si penganten anaknya bapak anu dan ibu yang itu]. sudah menjadi cita-cita saya untuk membuat pesta pernikahan yang intim dan tak berjarak antara mempelai dan tamu [orangtuanya]. dan dengan menulis kisah kami berdua di undangan menjadi salah satu usaha awalnya. [btw, kisahnya bisa dibaca sebagian di website undangan kami
sebetulnya saya sedikit 'kepleset' dengan design undangan ini. teman-teman saya boleh bilang designnya keren [hasil gonta-ganti design berpuluh-puluh kali, kalo gak keren mah mending gue ganti profesi aja deh.. hihi], tapi ayah saya sempat was-was, karena menurutnya design undangan yang kurang lazim itu bisa-bisa disangka sejenis high profile direct mail oleh teman-teman segenerasinya. beliau sampai harus mengkonfirmasi semua orang yang diundangnya untuk memastikan bahwa mereka benar-benar membacanya. untung tamunya pada datang. kalo gak.. mungkin saya beneran harus ganti profesi [salah baca target audience! hehe]
dekorasi
tak banyak yang kami minta dari pihak dekorator. kata saktinya hanya 1: SIMPLE!
selain itu kami minta untuk pasang layar tancep berukuran 4x6 meter di dua ruangan yang dipakai untuk pesta. di layar yang pertama di proyeksikan slide photo hasil jepretan saya dan laurent selama kami tinggal di apel besar. sementara layar yang di ruang satu lagi, selain photo juga diprojeksikan video tentang New York, saya dan laurent, hasil karya seorang sahabat yang mengambil sekolah film di Parsons, NYC [makasih ya di! banyak yang bilang keren lho!]
selain 2 layar tsb, di bagian penerima tamu dan koridor menuju pelaminan, dipasang juga 10 after-wedding photo kami berdua berukuran 80 x 60 cm yang diambil di New York oleh sahabat kami paw.
music
ketika kita berbicara tentang music dan New York, jawabannya sebenarnya bisa macam-macam. dari salsa to brazilian, jazz to classic, reggae to rock... semua bisa ditemui di New York. tapi tentu untuk sebuah acara resepsi di indonesia, yang tamu nya kebanyakan teman-teman orang tua pula, kami harus berkompromi dengan situasi. musik apa yang paling tepat untuk mewakili kota New York?
melalui diskusi kecil, diputuskan di ruang yang lebih besar [tempat teman-teman orang tua berkumpul] musik yang mengalun adalah jazz yang dimainkan oleh 5 orang pemusik, memainkan lagu-lagu tentang New York [and of course Sinatra!]. sementara di ruang yang lebih kecil [tempat teman-teman saya dan laurent akan ditempatkan] musik yang dimainkan adalah lounge music yang dimainkan oleh mantan boss saya yang paling funky, [who became a very best friend of mine] dan punya hobby nge-DJ (ebby, you are da best!!! :))
souvenir
tadinya saya sudah niat berat ingin memberikan cd berisi lagu-lagu tentang apel besar sebagai kenang-kenangan. tapi ternyata, ganti presiden membawa konsekwensi baru bagi para pengganda cd. yup! sekarang di indonesia, pengganda cd sedang disorot dan tak berani berkutik. kalaupun ada, mereka hanya bersedia menggandakan musik yang royaltynya sudah dimiliki [yang begini biasanya lagunya lagu cinta, diiringi suara organ. sementara saya nyari lagu tentang New York, yang dimainkan U2].
kesandung ide cd, akhirnya saya putar otak lagi. rasanya gak pingin deh memberikan sesuatu yang hanya sekadar memberi abis itu bendanya dilupakan, dibuang atau bisa juga dipajang tapi malah cuma menuh-menuhin lemari orang yang dikasih.
kutak-katik bolak-balik... akhirnya terpikir... mengapa tidak coklat saja. bisa langsung dimakan, gak jadi nyampah. kalaupun gak suka, tinggal cari anak kecil pasti kemakan juga! :) tinggal bagaimana caranya supaya coklat itu tak hanya berbentuk kotak coklat, tapi jadi sesuatu yang bisa diingat. satu lagi yang penting... apa hubungannya coklat dengan New York?
adalah Milton Glaser yang memberikan solusinya.. hehe.. masih inget logo I LOVE NY yang pernah saya tulis dulu? bercerita tentang logo tsb di sebuah benda untuk souvenir rasanya bisa jadi lucu juga. dan untuk memperkuat 'rasanya' logo tersebut akhirnya menjelma menjadi rangkaian huruf I, hati, huruf N dan Y terbuat dari coklat. persis banget gak juga sih... tapi paling tidak.. you got a glimpse of its taste, right? ;)
untuk ukuran resepsi pernikahan di Indonesia, jumlah tamu yang diundang sebenarnya tergolong standart. 600 undangan disebar di jakarta dan sekitarnya, sementara sisa yang 200 dikirim ke teman-teman kami yang berdomisili di amerika, eropa, australia dan beberapa negara asia lainnya. saya memang sudah wanti-wanti pada orang tua, bahwa resepsi ini adalah juga pesta perpisahan saya dengan handai taulan di tanah air. jadi kalo ngundang kebanyakan dan yang gak terlalu dekat, suasana intimnya bisa gak terkejar.
for the sake of formality dan photo-photo resmi, kami sendiri selama pesta hanya dipajang 1 jam di pelaminan. sisanya dansa-dansi, jalan-jalan kesana kemari, tak ada 'unggah-ungguh,' we just want to enjoy the party with our dear friends and families.
banyak yang bilang, pesta resepsi pernikahan kami sangat manis dan menyenangkan.. [makasih.. :)]. truth is.. we both DID enjoy the party 'til the end. we learn that being your self and just be happy about everything is the key of a great party. besides, there is no better feeling than knowing that you are surrounded and loved by your dear friends and families. especially when the party is about celebrating the journey in finding the love of your lives.
*terimakasih banyak untuk seluruh sahabat [yup! all of them are my dear old friends dari jaman jebot] yang telah membantu perayaan pernikahan kami berdua; jerry untuk cetak undangannya [without him, gue pasti langsung bangkrut! hihi], A'A dan ichan dari designship yang ikut repot 3 hari jeprat-jepret sana-sini [website designship is on its way ya.. ;)], bowo,arya dan dreadsta, dari roots digitalized, charlie da make up artist yang jagoan beratzz, lambchop sang sersan illustrator, dan iyo kungfu yang udah bikinin gesbuk di website kami berdua. love you all people!!
loucee said it on 10:40 PM | |




