Monday, April 19, 2004
• antara No Doubt dan Telkomsel

(1) Rock Steady album cover by No Doubt
(2) Telkomsel brochure
do you see any similarities between the two designs above??
well.. i do! ..similar typeface, similar layout, and similar flavour.
bedanya cuman yang satu adalah cover album-nya no doubt yang dirilis November 2001, sementara yang satu lagi adalah brosur promosi Telkomsel yang saya dapet gratis di toko kaset waktu lagi main ke jakarta, August 2003 kemarin.
sebuah kebetulan? atau sebuah kasus plagiarism?
tanpa bermaksud menuduh siapapun, saya cuman ingin mengatakan... kejadian seperti ini sering saya temukan pada design2 di indonesia.
loucee said it on 12:01 AM | |
Thursday, April 15, 2004
• Anja Kroencke

salah satu illustrasi favorite saya. dibuat oleh mbak Anja Kroencke, seorang illustrator yang berdomisili di Apel Besar. dilahirkan di Austria, 36 tahun yang lalu. mbak Anja belajar Fashion Design and Illustration di College for Textile & Design di Vienna. waktu masih kecil, mbak Anja suka banget sama Picasso dan gaya Cubism. sebelum gaya illustrasinya jadi minimalis seperti sekarang, mbak Anja udah sering berekesperimen dengan warna, tekstur, dan bentuk dari sejak masih remaja.
pertama kali saya liat illustrasi mbak Anja di majalah Wallpaper (yang kemudian 'diadaptasi' di sana-sini sama majalah A+), dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. nyampe di NY, illustrasinya sering saya liat lagi di etalase Ann Taylor segede gaban.
saya sukaaaaaa sekali gaya illustrasi mbak Anja karena simple, dan elegant. garisnya fluid dan effortless. kombinasi warnanya segar dan super modern. satu lagi cirinya yang konsisten adalah, semua perempuan yang digambar bertipe perempuan stylish, dengan pria2 metrosexual, khas masyarakat urban. makanya illustrasi mbak Anja sering menghiasi majalah2 fashion seperti Vogue, Elle, dan Allure, selain juga sekali2 muncul di The New York Times.
*bahan dikutip dari Communication Arts Magazine*
Wednesday, April 14, 2004
• the thin line between an inch mark and a quotation mark

a student in my school was given an F for his final grade by our Typography Professor.
the reason? he forgot to change an inch mark to be a quotation mark on his final design.
sebuah kesalahan fatal di kelas Typography, dimana 2 buah lambang yang sekilas terlihat sama memiliki arti yang sangat berbeda.
(1) inch mark: the marks used to define the metric system units
(2) quotation mark: a punctuation mark used to attribute the enclosed text to someone else
i've never paid any attention to this kind of thing until i got in to Pratt. kata profesor gue, masih untung cuman dikasih F, karena dunia nyata biasanya tidak mengenal kata ampun untuk kesalahan2 yang terlihat kecil seperti ini. after all, school is the best place to make mistakes, it is a safe area for you to learn about everything including from your own mistakes! *noted..ma'am!*
• mari belajar mendesign.. :)
waktu gue kuliah di ITB, proses belajar graphic design disana lebih banyak ditekankan pada pencarian konsep dan ide. dosen gak akan puas kalo anak2 cuman bisa ngasih 1-2 ide. pokonya harus banyak dan itupun teruusss diulik-ulik lagi sampe mateng bener deh idenya. studio desain komunikasi visual ITB memang udah dikenal dengan proses penggodokan konsep. dosen mendorong anak2 untuk bisa come up with ide2 yang gak cuman orisinil tapi juga harus unik dan lain dari pada yang lain.
sayangnya sekolah gue yang itu gak terlalu menekankan pada aspek teknis dari desain itu sendiri. sampe gue lulus dan kerja 2 tahun kemudian, gue masih belom bisa memformulasikan design yang bagus itu seperti apa, kecuali ditilik dari idenya. tapi kalo harus menilai apakah sebuah design itu enak dan indah dilihat, gue mengandalkan penuh intuisi dan pengalaman masa lalu.
sampe gue masuk Pratt di NYC, sekolah design yang lebih mengutamakan mencetak designer2 yang siap pakai. disini dosen biasanya gak terlalu ngulik students tentang ide2 design mereka. itu semua tanggung jawab students, mereka gak akan bahas di kelas, kecuali kalo emang idenya tulalit dan jauh aje dari permasalahannya. sementara untuk urusan teknis... boleh dibilang Pratt adalah salah satu yang terbaik. 'teknik' disini konteksnya adalah lebih pada penggunaan elemen2 yang dipakai dalam layout seperti typography, balance, negative space, etc... bukan teknik cara bikinnya [seperti using filters in photoshop, or hand-skill, etc].
salah satu professor di Pratt yang sangat gue segani adalah Prof. Alisa Zamir. Doi lulus dari London dan sekarang running her own graphic design firm "Taylor & Ives Inc." di NYC. dari ibu yang satu inilah semua 'ritual tebak-tebakan' gue di masa lalu untuk menilai sebuah design itu bagus apa gak langsung terjawab. menurutnya, orang biasa pun sebenernya bisa 'merasakan' design yang baik, cuman mereka gak nyadar aja. contoh kasusnya kalo lo lagi jalan2 trus liat sederetan poster yang ditempel, biasanya lo akan tertarik untuk melihat 1-2 poster yang mencolok... unconsciously design poster tsb membuat mata lo untuk melirik kesana. mencolok disini bisa disebabkan oleh macem2, mungkin karena warna, atau bisa juga komposisi. tapi the fact, bahwa design poster tsb udah bisa menarik perhatian lo dalam sepersekian detik, itu sudah bisa dibilang design yang lumajan bagus, karena telah berhasil menggoda mata orang yang lewat untuk liat. boleh dibilang 'to catch people's attention' menjadi salah satu tahap yang paling crucial. karena kalo gak, gimana mau menyampaikan pesan kalo target audience nya cuek.
bagi designer, ada beberapa hal yang harus diperhatiin saat mendesign untuk bisa menghasilkan design yang bagus. berikut, bebarapa diantaranya menurut Prof. Alisa Zamir:
the order of importance.
tugas seorang graphic designer sebenernya bisa diibaratkan sebagai organisator. intinya dia harus bisa mengorganisasikan elemen2 dalam layout untuk bisa ditempatkan dalam satu bidang tanpa ada perselisihan diantara elemen2 tsb. misalnya dance art museum brochure diatas. elementnya terdiri dari image cewe, tulisan 'MARCH', dan keterangan teks. designer sebenernya punya kekuasaan penuh untuk mendirect mata orang yang melihat brochure tsb sesuai dengan keinginannya. pengen membuat orang melihat image cewenya dulu? solusinya, bikinlah image tsb lebih besar dari elemen lainnya. intinya si designer harus bisa menuntun mata yang liat untuk melihat ke titik 1 dulu lalu titik 2, titik 3, dst, dengan memperhatikan ukuran, warna, posisi, dsb.
negative space
sebenernya pada saat mata manusia men-scan sebuah bidang [dalam hal ini design], mata gak hanya melihat bidang2 yang diisi, tapi juga bidang2 yang tidak diisi.. yang disebut negative space. contohnya bus stop poster diatas, negative space nya adalah bidang putih yang mengelilingi image si penari. kalo negative spacenya berantakan atau gak teratur, otomatis akan membuat mata yang melihat juga jadi gak enak. akhirnya ya.. the whole layout jadi keliatan berantakan juga.
background and foreground
yang ini sebenernya gue masih belajar terus. menurut Zamir, design yang baik punya sense background and foreground yang kuat. yang ini bisa diartikan bahwa ada kejelasan antara elemen yang ada didepan, atau yang dibelakang. bisa juga di interpretasikan elemen2 harus punya ground, berpijak pada sesuatu, jangan sampe 'melayang' supaya enak diliatnya. kalo teori gue sendiri sih mungkin ada hubungannya dengan hukum alam. manusia berpijak di bumi karena gravitasi, bumi berputar pada porosnya, planet mengelilingi matahari. jadi ada hubungannya dengan hukum sebab akibat kali ya. semuanya terjadi karena suatu alasan tertentu. contohnya disco ball poster diatas, letak elemen disco ball dan teksnya saling berhubungan dari atas sampe bawah, dan ada kesan elemen2 tsb digantung dari atas bidang layout.
relationship between objects
saat menentukan ukuran sebuah elemen, designer harus mempertimbangkan ukuran elemen lainnya. kalo bisa semuanya saling berhubungan dan terkakulasi dengan baik. yang ini paling sering dipake untuk bikin logo. contohnya logo amanjiwo diatas, misalnya tinggi tulisannya adalah x maka tinggi logo segitiganya jadi 6x
dari keempat point diatas, sebenernya Zamir juga nambahin bahwa yang paling penting dalam design adalah simplicity. design yang baik adalah design yang mampu mengkomunikasikan banyak pesan tanpa harus menaruh banyak elemen di dalam layoutnya. meskipun gue menganut faham "LESS IS MORE" juga , sebenernya kalo dilihat lagi banyak design2 yang bagus tapi justru clutter dan terkesan berantakan. Contohnya design2nya David Carson. Ya.. gue sih gak terlalu suka sih sama designnya. tapi Carson tetep punya audience nya sendiri dan pengikutnya banyak juga. jadi at the end, kalo udah menyangkut yang namanya style sih bisa subjektif. selama audience bisa nangkep dengan jelas dan benar pesan yang ingin disampaikan oleh sebuah design kayanya sih "hajjjaarrrrrr..baanggg!!!" hueiheiuehe... :P




